#TALK : Elephant Kind Berbicara Kesejajaran Musik Lokal Dengan Musik Luar

Pengalaman pertama saya mendengarkan lagu bejudul Scenario III rekomendasi dari seorang kawan beberapa waktu yang lalu. Pikiran saya langsung tertuju pada band-band luar negeri sebut saja The Temper Trap, Two...

Pengalaman pertama saya mendengarkan lagu bejudul Scenario III rekomendasi dari seorang kawan beberapa waktu yang lalu. Pikiran saya langsung tertuju pada band-band luar negeri sebut saja The Temper Trap, Two Doors Cinema Club dan lainnya. Tapi ketika kawan saya memberitahu bahwa lagu ini adalah band baru yang juga berasal dari Indonesia, saya langsung tertarik dan mencoba untuk mencari tahu beberapa lagu lainnya di media sosial.

Elephant Kind

Ya band ini bernama Elephant Kind, band yang awalnya berangotakan Bam Mastro, Bayu Saputra, John Paul Patton dan Dewa Pratama ini telah dikenal oleh banyak kalangan di Indonesia khususnya kalangan neo hipster dan penikmat musik indie lokal. John Paul Patton atau yang akrab di panggil Coki kini telah resign untuk fokus dengan band yang ia dirikan yaitu Kelompok Penerbang Roket. kami ngobrol dengan Elephant Kind yang ditemui setelah acara press conference di sebuah tempat di SCBD Jakarta Pusat, mengenai warna musik mereka yang sedikit berbeda dengan kebanyakan band/musisi lainya di Indonesia.

Siapa yang pertama kali mengusungkan nama Elephant Kind?

Yang mengusulkan nama Elephant Kind pertama kali adalah bam, saat dia menulis skripsi tentang gajah. Jadi gajah menimbulkan persepsi, kalau gajah ini bisa mati dikarnakan sakit hati seperti manusia, jadi Elephant Kind seperti gajah. Terkadang orang-orang suka salah mengartikan Elephant Kind itu “gajah baik” tetapi arti yang sebenarnya adalah “sejenis gajah”.

 

Apa sih influens band kalian?

Dari segi musik sih kita tidak ter-insfluens dari satu band. Maksudnya, banyak orang bilang ini musiknya mirip Foals atau Two Door Cinema Club, atau Foals-nya Indonesia atau juga Two Door Cinema Club-nya Indonesia. Jujur kita tidak mendengarkan itu, gue dengerinnya blink, Tom Delonge, Kanye West, Dewa, Daft Punk, The Adams, dan Sheila on 7. Jadi banyak lah! dari semua yang beda itu, saat kita bermusik di Elephant Kind kita suka sama materi yang sudah dibuat, dan menyatukan elemen-elemen tersebut. Mungkin bukan dari musiknya, cuma dari cara mengeluarkan passion, jadi tidak ada spesifik pengen membuat lagu kaya si musisi ini atau itu, Karna kita tidak mempunyai patokan itu, patokannya adalah apa yang keluar dari pikiran kita aja.

 

Ada gak sih band lokal yang mempengaruhi kalian dalam bermusik?

Menurut gue sih bukan mempengaruhi, yang gue seneng dari scene sekarang adalah band lokal yang sedang bergerak bareng, dan kita ketemu lagi dengan band lama. Kemarin gue sempet ngobrol dengan Hendra Rock and Roll Mafia dia senang banget karna dia melihat band di Jakarta keren-keren banget, akhirnya membuat band lama bersemangat lagi. Itu menurut gue sesuatu hal yang bagus, akhirnya semuanya bergerak bareng lagi. Tidak seperti dulu setiap band mempunyai scene-nya sendiri. Kalau sekarang gue liat, semuanya sedang bergerak bareng apalagi dengan adanya sosial media.

 

Tanggapan kalian tentang banyak orang mengira band kalian berasal dari luar negeri?

Mungkin karna tidak ada patokannya antara band Indonesia dengan band luar negeri. Kalau misalkan orang mengira kita band luar negeri ya wajar-wajar aja sih, karna memang kita liriknya ber-bahasa Inggris, secara production kita banyak memakai unsur luar, mastering dan mixing juga di luar, mungkin gara-gara hal seperti itu. Harusnya udah gak kaget lagi sih kalau ada band Indonesia yang soundnya udah kayak band dari luar negeri, karna setara aja band luar negeri dengan band Indonesia.

 

Ada keinginan untuk membuat lirik lagu ber-bahasa Indonesia?

Pengen banget, gue ada sih beberapa lagu yang ber-bahasa Indonesia di rumah belum dipublikasi, tetapi pengen one day ada waktunya di mana saat waktunya tepat, lagunya enak, dan lagunya bagus pasti kita keluarin.

 

Kemarin sempat bikin film yang naskanya berdasarkan lirik, dari film itu sebenarnya siapa Julian Day?

Julian Day adalah karakter fiksi yang kita buat biar ceritanya nyata. Sebenarnya ceritanya sendiri adalah cerita personal, tapi dibikin karakter fiksi jadi sepertinya lebih ke film tanpa visual.

 

Dari judul album kalian yang pertama, arti kata City J sendiri mengandung makna apa?

City J itu sebutan sayang gue buat Jakarta dulu sama teman-teman di Australi. Kalau manggil Jakarta, “City J”. Tapi kalau ceritanya, tentang pengalam bermusik kita di Jakarta selama dua tahun.

 

Apakah karakter musik kalian berbeda di album pertama dengan lagu yang sebelumnya?

Beda banget, kalau di EP kalian mendengar nuansa tropical. Kalau di City J nuansanya lebih ke urban banyak ambient. jadi kenapa berbeda, dari awal kita udah membicarakan bahwa tidak mau sama warna musiknya seperti sebelumnya, misalkan Oh Well kita tidak mau mengeluarkan musik yang sama seperti Oh Well lagi. Jadi ingin terus ber-evolusi secara musikal dan tetap orang mengenalnya sebagai Elephant Kind.

Gimana sekarang hubungannya sama Coki KPR ? 

Kemarin orangnya baru aja ngajakin main futsal (tertawa), kita selalu berhubungan baik karena kita semua sama-sama berangkat bareng juga jadi tidak ada yang aneh-aneh lah sampai sekarang fine-fine aja

 

Rencananya bakal rilis vinyl gak?

Pengen sih untuk koleksi ya secepatnya kita liat aja.

 

Ada gak sih pertanyaan yang kalian tunggu tapi ga pernah ditanyakan ke kalian ? atau mau ada uneg-uneg yang ingin dikeluarkan tapi belum diberi kesempatan untuk menyampaikannya?

kita sempet ngobrol bertiga sih sebenernya tentang ini, sekarang tuh banyak ya musisi maupun band teman-teman kita kalau karya nya tuh udah muncul di media sosial, banyak orang yang memberi penilaian misalnya seperti “ini band kaya Barasuara nya Amerika nih atau Scaller nya Amerika nih dan lain-lain” nah ini yang harusnya dihilangkan, soalnya menurut kita musik Indonesia sudah sejajar dengan musik mancanegara. Ketika sedang sesi photoshoot beberapa waktu yang lalu kita bertemu dengan orang jerman yang out of nowhere gitu yang kita juga tidak tahu dia siapa, terus dia juga menanyakan tentang mental orang Indonesia ke kita itu seperti apa, soalnya dia merasa di wah-wah kan terus padahal dia bukan siapa-siapa di sini, itu yang harus dihilangkan, karena sudah saatnya kita mensejajarkan posisi kita dengan mereka sebagai humanity, tidak memandang budaya, ras dan negara. Saat ini pun di bidang musik kita juga sejajar dan harus chin up jangan mau dijajah terus.

 

Pesan dari kalian untuk teman-teman yang lagi berkarya?

Pesan kita berkarya terus aja gak usah takut keluarin karya lo, jangan nyontek-nyontek misalnya “gue mau bikin band kayak gini nih” jangan, mending bikin aja yang original jangan yang harus ngejual atau yang lagi trand. Keluarin aja karya lo pede, sosial media udah banyak diolah dengan bagus pasti bakal bagus hasilnya.

Comments

comments

Categories
#Talk
Caesar Damara

yuk check janisproject.com :D

RELATED BY