Festival Film Kopi: Edukasi budaya Kopi Indonesia Lewat Film

Bertepatan dengan bulan Ramadan, bertempat di Sekopi, Kopi Tanah Air Kita, The Breeze BSD, diadakan acara ramah tamah buka puasa bersama, sekaligus juga menjadi soft launching Festival Film Kopi...

Bertepatan dengan bulan Ramadan, bertempat di Sekopi, Kopi Tanah Air Kita, The Breeze BSD, diadakan acara ramah tamah buka puasa bersama, sekaligus juga menjadi soft launching Festival Film Kopi 2017 yang diadakan oleh Sinekopi. Arqom Maksalmina kordinator dari organisasi Sinekopi menerangkan inisiatif ini lahir melalui teman-teman pencinta sinema dan peminum kopi. “Festival ini bertujuan memperkenalkan kopi di Indonesia dan memperlihatkan bahwa budaya ngopi merupakan hal yang amat erat di Indonesia”. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Arief Akhmad Yani selaku manajer festival yang melihat kebanyakan film di Indonesia terdapat adegan ngopi atau paling tidak terucap secara verbal ajakan mengopi.

Festival Film Kopi menghadirkan beberapa program, yaitu pemutaran film pendek baik yang dikompetisikan, maupun non-kompetisi. Film pendek yang diputar diseleksi melalui open-submission yang berlangsung dari 5 Mei dan ditutup pada 30 Agustus 2017. Puncak acara dan malam penghargaan akan dilangsungkan pada 2 Oktober 2017 dengan berbagai acara seru, termasuk pemutaran film di beberapa titik selama beberapa hari.

Suasana Press conference Festival Film Kopi

Selain film pendek, festival ini juga membuka submission untuk video blog atau vlog berdurasi maksimal 10 menit, di mana masing-masing vlogger diharuskan membagikan kisah tentang kopi atau budaya di wilayah masing-masing dan mengirimkannya pada panitia. Akan dipilih 4 video pemenang yaitu pemenang favorit dan juga pilihan juri. Di samping itu juga ada kompetisi video 1 menit yang mengajak masyarakat khususnya anak muda mengikuti dan meramaikan festival film kopi.

Menjelang festival, diselenggarakan pemutaran film di beberapa desa bersama petani. Antara lain di Cikalong Wetan Bandung, Gunung Merapi Magelang, dan Gunung Ijen Banyuwangi. Pemutaran ini bertujuan mendekatkan film pada masyarakat, dan juga memperlihatkan bagaimana usaha-usaha petani telah banyak dinikmati oleh masyarakat luas melalui film. Dalam keterangannya, Panji Mukadis selaku Direktur Program Festival Film Kopi menerangkan bahwa yang membedakan antara Festival Film Kopi dan festival lainnya yaitu keterlibatan pelaku industri kopi mulai dari petani sampai pemilik kedai kopi.

Sebelum acara akan diselenggarakan pemutaran di berbagai desa penghasil kopi sekaligus mengajak petani dan warga sekitar menikmati tontonan pilihan. Tidak hanya itu, selama festival berbagai komunitas diajak memahami kopi. “Festival Film Kopi juga tidak berakhir sampai malam penutupan, namun film-film terseleksi akan didistribusikan di berbagai layar alternatif termasuk kedai kopi.” Jelas Panji. Usai festival, film-film terseleksi akan mendapat kesempatan didistribusikan di berbagai lokasi pemutaran dan warung kopi, yang mana skema pembagian hasil bagi pembuat film baik pemutaran komersil, maupun tidak.

Tersedia total hadiah dan dana produksi senilai puluhan juta rupiah bagi 4 pemenang dan dana produksi untuk membuat film seputar kopi. Hadir di acara, sebagai salah satu juri dari yaitu Candra Aditya penulis kritik dan juga seorang pembuat film. Dalam melakukan penilaian, Candra juga akan ditemani beberapa juri lainnya yang telah menekuni berbagai bidang, baik sebagai sineas seperti Fajar Nugros, Nicho Yudifar dan yang lainnya. Juga turut mengundang pemerhati kopi. Line up lengkap juri Festival Film Kopi akan diumumkan akhir bulan Juni 2017.

Comments

comments

Categories
EventKultur
Kevin Perdana

graphic designer / Co-Founder of Geegoe.com

RELATED BY