Sprint: Pertunjukan Fisik dan Penuh Ritme

Perkembangan seni tari di Indonesia, sepanjang 1970-an hingga 2000-an, pada umumnya berpijak dan berangkat dari akar tradisi dan non-tradisi. Misalnya, ada pengaruh western modern dance, hip-hop, street dance atau...

Perkembangan seni tari di Indonesia, sepanjang 1970-an hingga 2000-an, pada umumnya berpijak dan berangkat dari akar tradisi dan non-tradisi. Misalnya, ada pengaruh western modern dance, hip-hop, street dance atau “gerak bebas”. Belakangan ini telah muncul pula beberapa koreografer yang mengembangkan bentuk dance-theater. Sejak kemunculan istilah dance-theater atau thanztheater di Jerman pada 1920-an, unsur “teterikal” mulai menjadi dasar penting bagi koreografi. Para koreografer sudah mulai menggarap ide “keseharian” (konflik sehari-hari) dengan memasukan gaya gerak yang tidak lagi “menari” seperti lazimnya.

Kali ini Salihara mengadakan festival tari yang bertajuk Helatari 2017, diadakan pada juni ini mulai dari tanggal 8 Juni sampai 18 Juni 2017. Helatari menampilkan beberapa koreografer Emmanuelle Vo-Dinh (Prancis), Melati Suryodarmo (Surakarta), Mohammad Hariyanto (Surabaya), Katia Angel (Jerman/Indonesia), dan Yola Yulfianti (Jakarta). Mereka akan menempilkan karya-karya yang dekat dengan konflik keseharian dan memiliki hubungan interdisipliner dengan bidang-bidang lain. Mulai dari kehidupan kosmopolitan di Jakarta, kehidupan pematung, sihir tari tradisi hingga gerak tari yang terlahir dari tafsir atas karya sastra. Selain itu karya yang akan ditampilkan juga mengandung unsur “kebaharuan” yang kuat.

Pada tanggal 8 juni kemarin Emmanuelle Vo-Dinh menampilkan karya yang berjudul Sprint, dalam pertunjukan ini kita melihat satu orang penari yang berlari berputar dan berubah pola lari dengan ritme kaki, nafas, dan beban tubuh yang menyentuh persepsi sensorik penonton. Sprint adalah pertunjukan fisik dan penuh ritme, adalah karya yang diciptakan Emmanuelle Vo-Dinh untuk seorang penari. Di atas panggung Maeva Cunci seorang penari terus berlari, membentuk lintasan, tikungan dan jangkauan berpola yang berbeda-beda. Gerakan yang dibawakan oleh penari dengan latar belakang panggung yang redup dan dipenuhi asap seolah memberikan presepsi puitik. Ide Sprint berdasarkan pengalaman yang menjadi indikator daya tahan tubuh dan emosi penari melalui pertunjukan yang menghabiskan tenaga.

 

Emmanuelle Vo-Dinh

Emmanuelle Vo-Dinh adalah Direktur Artistik Le Phare, Centre Choregraphique National du Havre Hautenormandie, Prancis. dalam koreografinya ia kerap mengangkat peristiwa social, fisologis dan psikologis. Ia mengamati dan memahami sebuah fakta kemudian mengubahnya menjadi sebuah karya. Pada 1997 ia mendirikan Sui Generis Company dan mengamati karya tari kiedalam “emosi”. Ia mempelajari tentang saraf dan skizofrenia, yang mengilhami sagen (2001), dan diikuti pula oleh seri karya yang lebih minimalis berdasarkan tema pengulangan, waktu, hasil penelitian dan pengalaman hidup. Ia pernah meraih penghargaan Prix d’Auteur Rencontres choreographiques internationals de Bagnolet pada tahun 2000. Pada 2015 ia menciptakan Tombouctou deja-vu untuk festival d’Avignon, Prancis. Setahun sebelumnya ia juga pernah dinominasikan sebagai “Chevalier” dari Orde des Arts et des Lettres (Order of Arts Letters), Prancis.

Comments

comments

Categories
Eventgeegoe
Caesar Damara

yuk check janisproject.com :D

RELATED BY