Angkot Is The Melting Pot: Live Dance Film

Tari kontemporer adalah tarian yang terpengaruh dengan ke-moderenitasan, bersifat bebas, mengandung filosofi dan tidak terpengaruh pakem-pakem gerak seperti tarian tradisional. Banyak rubik tari kontemporer dari teater tari sampai film...

Tari kontemporer adalah tarian yang terpengaruh dengan ke-moderenitasan, bersifat bebas, mengandung filosofi dan tidak terpengaruh pakem-pakem gerak seperti tarian tradisional. Banyak rubik tari kontemporer dari teater tari sampai film tari, kita akan membahas film tari karya Yola Yulfianti yang berjudul Angkot Is The Melting Pot. Film tari ini sendiri masih sesuatu hal yang baru di negeri ini, banyak koreografer yang mendalami dan mencari tahu bagaimana sebenarnya memindahkan peran panggung ke dalam layar digital.

Angkot Is The Melting Pot adalah pertunjukan live dance film. Ada dua orang penari di dalam angkot yang berada jauh di luar ruang pertunjukan. Mereka akan merespon keadaan sekitar, yaitu keadaan di dalam angkot maupun terhadap kota itu sendiri. Dengan tubuh mereka, dua penari itu kemudian akan ditangkap oleh kamera, dimanipulasi oleh teknologi, audio maupun visual, dan ditayangkan langsung di atas panggung.

Angkot Is The Melting Pot ditampilkan di Komunitas Salihara pada Juni kemarin, dalam festival Helatari Salihara 2017 secara live streaming. Karya ini mengangkat situasi yang terjadi langsung pada saat itu juga, berdasarkan peristiwa di dalam angkot di Jakarta. Yola yang terinspirasi dari keresahannya akan keterasingan orang-orang yang berada di dalam angkot. Bagi Yola, di dalam angkot jarak antara tubuh dengan tubuh yang lain saling berdekatan namun terasa asing. Kota Jakarta berperan sebagai melting pot (tempat berbaurnya segala budaya dalam satu tempat).

Kenapa mesti Jakarta? Jakarta sendiri bagi Yola adalah kota di mana penduduknya tidak saling berbaur dengan sesama, namun banyak sub-kultur di dalamnya. Tidak seperti Solo, kota di mana tempat dia mengenyam ilmu pengetahuan, yang sosialnya begitu ramah sehingga dia bertanya-tanya kenapa Jakarta tidak seperti itu? Mungkin karena moderenitas yang menggerus rasa gotong-royong dan menciptakan sifat apatis pada masyarakat.

Yola Yulfianti

Dia adalah lulusan Jurusan Seni Tari, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) 2004. Pada 2009, ia melanjutkan studi di program pascasarjana Seni Urban dan Industri Budaya IKJ dengan tugas akhir berupa karya dance film berjudul Suku Yola yang juga mendapat penghargaan Pearl dalam ajang Dance Film International di Berlin, Jerman. Pada 2014 ia melanjutkan studi doktoral di program Pengkajian dan Penciptaan Seni, ISI Surakarta, dengan karya berjudul Kampung Melayu Pasar Senen PP (2017).

ia kerap bekerja sama dengan koreografer dan sutradara dari dalam maupun luar negeri. Ia juga mengembangkan minatnya di dunia musik untuk menggarap sendiri musik latar koreografinya, antara lain, Amost can’t Breath (2011), My Moonlight (2011), Payau #2 Waterproof (2012), Update Status (2013). Pada 2014 dan 2015 ia mendapat dukungan dari Program Hibah Seni Perempuan Yayasan Kelola untuk karya berjudul I Think Tonk (2014) dan #ibuibuibukota (2015). Saat ini ia menjadi salah satu anggota Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta periode 2015-2018.

Comments

comments

Categories
Event
Caesar Damara

yuk check janisproject.com :D

RELATED BY