Obscure : Dugaan Yang Subyektif

pameran yang menggambarkan kondisi abu-abu atau samar-samar

Obscure adalah pameran yang menggambarkan kondisi abu-abu atau samar-samar, karena itu ia menawarkan dugaan-dugaan yang subyektif. Kali ini Komunitas Salihara menampilkan Andy Dewantoro dan Eddi Prabandono, dua perupa kontemporer Indonesia yang dikenal luas, baik di dalam maupun di luar negeri.

Ada lukisan karya Andy Dewantoro yang berjudul Dead End (2017). Karya tersebut adalah sebuah ruang kosong yang dibatasi oleh garis polisi. Selain membangkitkan rasa terintimidasi dan kesan absurd, karya itu juga menawarkan bahwa di dalam keramaian, ruang-ruang dapat menenggelamkan kehadiran seseorang. Andy Dewantoro akan memainkan tanda dan enigma yang serupa pada empat lukisan berskala besar lainnya.

Sementara Eddi Prabandono, dengan instalasi berjudul Archeology of the Future, akan menggambarkan bagaimana tanda-tanda sudah tidak lagi berlaku, ketika kebudayaan manusia masa kini dan nanti telah menjadi sinyal dari perangkat teknologi komunikasi yang canggih.

Andy Dewantoro dan Eddi Prabandono adalah dua perupa yang dekat dalam gagasan, namun berbeda dalam pilihan medium. Andy Dewantoro lebih mengembangkan seni lukis baru di atas kanvas, dalam ukuran besar. Sementara Eddi Prabandono lebih banyak menampilkan instalasi, yang memperlihatkan tanda-tanda perubahan yang cepat dalam masyarakat.

Pameran Obscure akan bertitik api pada simbol modernitas yang hadir dalam keseharian dan mungkin kelak hanya sebagai kenangan. Pameran Obscure akan dibuka di Galeri Salihara pada Jumat, 28 Juli 2017, 19:00 WIB, oleh Amalia Wirjono. Pameran ini berlangsung sampai 20 Agustus 2017.

 

Profil

Andy Dewantoro menamatkan pendidikan di Jurusan Desain Interior Institut Teknologi Bandung. Semenjak mengikuti residensi di Eropa, ia terpengaruh oleh lukisan William Turner dan John Constable dari abad ke-19, yang mengembangkan karya-karyanya menjadi sangat auratik. Ia menciptakan dunia bayangan dan bentuk yang sinematis. Ada rumah, gereja, jembatan dan bentuk arsitektural lain yang diwarnai oleh palet berwarna biru muda, ungu, putih dan abu-abu, yang pada akhirnya menghasilkan kesan yang memudar dan tampak telah ditinggalkan. Pameran tunggalnya, antara lain, adalah Half Full Half Empty (Valentine Willie Fine Art, Malaysia, 2011), empty – space – landscapes (Galeri Semarang, 2010), dan Silent World (Ark Galerie, 2008). Sepilihan karyanya dibukukan dalam Indonesian Eye: Contemporary Indonesian Art (2012).

Eddi Prabandono menamatkan pendidikan di Fakultas Seni Rupa Institut Seni (ISI) Yogyakarta. Ia adalah perupa yang melibatkan perencanaan dan konstruksi untuk menciptakan karya-karya berskala besar. Ia menggunakan banyak pekerja untuk membuat desain dan bahkan rencana kerja yang memerlukan perhitungan cermat. Pameran tunggalnya yang mutakhir, antara lain, adalah After Duchamp: Bicycle Wheel (Ark Galerie, 2011), Wonderful Fool (Red Mill Gallery, AS, 2010), Strategic Presentation: Sculpture Luz, and Illusion (SIGIarts, 2009). Karya-karyanya dikoleksi oleh Primo Marella Gallery (Italia), Johnson State College (AS), Awaji City Office (Jepang). Pada 2012 ia menjadi Tokoh Seni 2011 pilihan majalah Tempo. Saat ini ia tinggal dan lebih banyak bekerja di Yogyakarta dan Okinawa, Jepang.

Comments

comments

Categories
EventKultur
ash jay

sunrise dan sunset di sudut kavling

RELATED BY