Mengenalkan Sastra Amerika Latin Lewat LIFEs 2017

LIFEs Literature and Ideas Festival adalah program festival dari Komunitas Salihara yaitu festival yang membahas sastra dan gagasan secara umum, yang diadakan sepanjang bulan November ini. Festival ini sebelumnya...
LIFEs and ESAS Media Gethering

LIFEs Literature and Ideas Festival adalah program festival dari Komunitas Salihara yaitu festival yang membahas sastra dan gagasan secara umum, yang diadakan sepanjang bulan November ini. Festival ini sebelumnya bernama Biennale Sastra yang diadakan dua tahun sekali, karena adanya keterbatasan untuk diadakan dua tahun sekali, Komunitas Salihara mengubah namanya menjadi LIFEs. Tidak hanya sastra namun produk seni yang lain juga ikut serta dalam festival ini, seperti film, teater, dan pameran seni.

Komunitas Salihara sebenarnya sudah dari awal tahun mengadakan LIFEs, dengan menyebar film-film Amerika Latin ke sinema alternatif seperti Kineforum, Paviliun28, dan juga mengadakan kelas salsa Amerika Latin. Festival ini diadakan ditahun ganjil dan ditahun genap akan ada program dari LIFEs seperti wisata sastra dan mini LIFEs. Mini LIFEs adalah festival kecil yang diadakan seminggu untuk membahas sastra dan wisata sastra adalah dimana Komunitas Salihara mengajak untuk berwisata sastra untuk mengenal berbagai macam karya sastra dan keberagamannya.

Kali ini LIFEs 2017 mengadakan festival bertemakan Membaca Sastra Amerika Latin, Viva! Reborn. Dengan memperkenalkan kesusastraan asing, LIFEs mengajak dan mempermudah pembaca untuk mengenal budaya luar melalui sastra. Dengan sastra kita bisa belajar mengenal perbedaan dan persamaan budaya antara Amerika Latin dengan Indonesia. Dalam festival ini Komunita Salihara tidak hanya sendiri, mereka mengundang ESAS Empu Sendok Art Station, dan Studio Hanafi Jogjakarta.

Dalam festival ini ada beberapa sub-acara yang diutamakan salah satunya pemvisualan karya sastra Juan Rulfo berjudul Pedro Paramo, yang dirubah dari sebuah buku menjadi sebuah pameran seni yang mengagumkan. Pameran ini juga sekaligus menerbitkan buku Pedro Paramo karya Juan Rulfo dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia. Tidak hanya pameran seni, Pedro Paramo juga dirubah menjadi karya teater yang menceritakan kisah seorang anak yang memenuhi janji ibunya untuk mencari bapaknya di kota mati Comala. Dengan berkolaborasi bersama seniman dari Jogja Hanafi, pameran dan teater terasa begitu nyata, seolah kita berada dalam kota yang bernama Comala dalam buku Pedro Paramo.

Comments

comments

Categories
EventKultur
Caesar Damara

yuk check janisproject.com :D

RELATED BY