#TALK : Tahun Yang Penuh Misteri

Dalam memperingati hari sumpah pemuda geegoenews mengadakan wawancara spesial dengan orangtua korban kemanusiaan tragedi Semanggi satu yaitu ibu Maria Catarina Sumarsih, ibu dari korban BR Norma Irmawan (Wawan), mahasiswa...
13 November 1998 Semanggi Satu

Dalam memperingati hari sumpah pemuda geegoenews mengadakan wawancara spesial dengan orangtua korban kemanusiaan tragedi Semanggi satu yaitu ibu Maria Catarina Sumarsih, ibu dari korban BR Norma Irmawan (Wawan), mahasiswa Universitas Atmajaya yang meninggal tertembak pada tragedi Semanggi satu. Wawancara ini dilakukan saat Aksi Kamisan 26 Oktober 2017.

Maria Catarina Sumarsih

Dengan Ibu siapa saya bicara?

Saya dengan ibu Maria Catarina Sumarsih. Saya ibu dari BR Norma Irmawan atau biasa dipanggil Wawan, dia adalah mahasiswa Atmajaya yang menjadi korban dalam tragedi keji Semanggi 1, 13 November 1998.

 

Bagaimana proses terjadinya kasus semanggi satu?

Jadi pada tahun 1998 itu kan, mahasiswa berdemonstrasi menuntut Soeharto untuk berhenti, dan agar pemerintahan kedepannya melaksanakan enam agenda reformasi. Jadi kalau pada mulainya Maret 1998, MPR memilih Soeharto lagi untuk menjadi presiden, dan pada bulan maret itu juga terjadi penculikan. Jadi tahun 1998 itu banyak terjadi kekerasan, seperti apa ya? seperti “misteri”, tahun yang penuh misteri.

Kemudian tanggal 12 Mei 1998 terjadi penembakan empat mahasiswa Trisakti. Kemudian tanggal 13 sampai dengan 15 Mei 1998 terjadi kerusuhan, tanggal 21 Mei presiden Soeharto menyatakan mengundurkan diri dan kemudian digantikan dengan wakil presiden BJ Habibie.

Pemerintahan baru dituntut melaksanakan enam agenda reformasi dan pada tahun 1998 pemerintahan presiden Habibie menyelenggarakan sidang istimewa MPR, tetapi sidang istimewa MPR itu ditolak karna sidang itu disinyalir dipergunakan untuk konsulidasi kroni-kroninya Soeharto, karena yang bersidang itu adalah anggota MPR, dan DPR.

Tuntutan mahasiswa adalah laksanakan pemilu ulang terlebih dahulu, terus kemudian para mahasiswa yang berdemonstrasi menolak sidang istimewa MPR, tidak hanya dihadapi oleh tentara, dan polisi yang diberi perlengkapan persenjataan berat untuk perang, tetapi pemerintah juga mengerahkan Pamswakarsa.

Tujuh belas orang meninggal dunia, tujuh di antaranya adalah mahasiswa, salah satu mahasiswa itu adalah anak saya BR Norman Irmawan. Wawan di samping dia menjadi mahasiswa Atmajaya, Wawan juga menjadi tim relawan kemanusiaan, bahkan waktu saya menemukan orang-orang yang tahu mengenai Wawan pada saat wawan belum ditembak, pada saat itu Wawan, hari itu Jumat 13 November 1998 Wawan melakukan tugas kemanusiaan, dia memakai ID card tim relawan kemanusiaan pada saat itu, ada tentara yang masuk kedalam kampus, kemudian Wawan memberitahu pada tentara “pak, itu ada korban jatuh, boleh di tolong atau tidak?” kata tentara tersebut “boleh silahkan” nah Wawan mengeluarkan bendera putih dari dalam tasnya. Ketika dia melambaikan bendera putih sambil menghampiri korban Wawan ditembak.

Wawan menurut hasil otopsi dari Dr. Budi Sampurno Wawan ditembak dengan peluluru tajam standar ABRI di dada sebelah kiri mengenai jantung dan paru-parunya.

 

Jadi tidak hanya empat korban dari Trisakti saja?

Jadi untuk penembakan para mahasiswa itu diselidiki oleh Komnas HAM dalam berkas penyelidikan Trisakti, Semanggi satu dan Semanggi dua, korbannya ada 15 mahasiswa.

 

Sebenarnya apasih aksi Kamisan?

Aksi Kamisan itu adalah cara kami bertahan untuk berjuang membongkar fakta kebenaran, mencari keadilan, dan melawan lupa. Jadi setelah menjadi korban, mula-mula kami itu tidak tahu apa yang harus dilakukan. Terus akhirnya kita membuat paguyuban namanya Paguyuban Korban Keluarga Korban Kekerasan 13, 15 Mei 1998, Semanggi satu 13 Mei 1998, Semanggi dua 24 September 1999 dan Tim Relawan Kemanusiaan.

Kami mencari kebenaran mendatangi lembaga-lembaga terkait, tetapi ternyata berat berjuang membongkar fakta kebenaran itu, akhirnya paguyuban itu bubar. Setelah bubar kami mendirikan JSKK (Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan), yang kemudian menjadi kegiatannya di Aksi Kamisan ini. Terus kemudian tertib Undang-Undang No 26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM. Nah ini!, kemudian yang mengarahkan perjuangan kami untuk mencari keadilan, tuntutan kami adalah kasus pelanggaran HAM berat masalalu diselesaikan melalui pengadilan HAM AD HOC. Mekanismenya bagaimana? Komnas HAM mengadakan penyelidikan, kemudian Kejaksaan Agung menindak lanjuti berkas penyelidikan Komnas HAM ke tingkat penyidikan, kalau terbukti melakukan pelanggaran HAM berat, maka DPR membuat surat rekomendasi kepada presiden, agar presiden menerbitkan keppres pembentukan pengadilan HAM AD HOC.

Tetapi sekarang ini ada tujuh kasus atau tujuh berkas penyelidikan Komnas HAM yang digantung di kejaksaan agung, dan ada enam kasus yang ditulis di dalam visi, misi dan program Jokowi, JK, yaitu kasus Semanggi satu, Semanggi dua, Trisakti, kerusuhan 13, 15 Mei 1998, Talangsari Lampung, penghilangan paksa, Tanjung Priuk, dan tragedi 1965 akan diselesaikan. Ada janji dari pak Jokowi, ada hitam di atas putih. yang visi misi Jokowi JK itu kemudian disebut Nawacita.

 

Kenapa harus Kamis?

Kalau harus kamis semuanya itu, apa ya? dari kesepakatan yang datang pada rapat saat itu. Kalau tidak salah rapatnya itu tanggal 9 January 2007 dan kemudian tanggal 18 January kita mulai aksi kamisan itu. Pada saat itu yang menghadiri rapat ada dari JSKK, JRKI (Jaringan Relawan Kemanusiaan Indonesia), dan KONTRAS. Kemudian kita mau mengadakan aksi kecil-kecilan gitu ya, setelah itu hari apa? setuju tidak? terserah mau seminggu sekali atau sebulan dua kali, akhirnya kita memutuskan untuk seminggu sekali di hari kamis. Dulu namanya adalah aksi diam, kalau sisa tiga orang kami akan bubar. Akhirnya kita banyak diskusi tentang maskot, mengenai tempat, kemudian kita tidak mempunyai uang, terus kita aksinya aksi damai, ya akhirnya kita bicarakan sampai pada yang harus dilakukan pada hari yang pertama itu.

 

Kita sebagai anak muda yang lahir tahun 90an, belum begitu merasakan masa Orba. Jadi menurut ibu pribadi masa Orba adalah masa yang bagaimana?

Masa Orde Baru itu adalah, ini akhirnya berbicara masalah keluarga ya, saya setiap malam selalu makan bersama dengan keluarga. Kami berbicara apa yang terjadi di keseharian kita, kalau di kantor saya di Sekretariat Jenderal DPR, bapaknya Wawan itu kerja di CSIS, Wawan kuliahnya di Atmajaya, adiknya waktu itu Irma masih di SMA.

Pemerintahan pak Harto orde baru itu adalah pemerintahan yang otoriter militeristik dan korup. Kalau pak Harto itu disebut sebagai bapak pembangunan tapi pembangunan-pembangunan infrastruktur pada saat itu entah jalan, entah gedung SD, kemudian dimanfaatkan oleh kroni-kroni Soeharto untuk melakukan korupsi. Saya pribadi tahu! saya orang yang senang membaca ketika hasil laporan persemester BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), disitu tertulis, misal di DPR ada tanah yang dijual oleh seseorang di jalan ini, tetapi uangnya di pakai untuk ini, uangnya belum disetor ke kas negara itu jelas sekali, tetapi kan kemudian tidak ditindak lanjuti.

Menurut kami tidak perlu adanya KPK kalau kejaksaan agung itu berjalan dengan baik. Waktu itu saya juga cerita dengan wawan, Wawan kan mahasiswa, ibu pegawai negeri kerja di DPR, pegawai negeri itu diwajibkan menjadi anggota KORPRI dan Wawan tidak boleh demo, tetapi Wawan boleh membuat ruang dialog. Setiap hari di sekitar kampus Wawan dan disekitar kantor ibu banyak tentara dan polisi yang dipersenjatai dengan peralatan berat untuk perang, ada tank, dan ada punsher, setiap hari ada bunyi tembakan, itu menurut kami sangat mencekam.

ABRI pada saat itu kenapa di agenda reformasi yang keempat itu bunyinya cabut dwifungsi ABRI, karna semua mengakui bahwa tentara dan polisi sebagai alat pak Harto untuk melanggengkan kekuasaan. Pada Orde Baru TNI dan Polri itu masuk menjadi anggota MPR dan DPR. Fraksinya ada fraksi TNI Polri.

Comments

comments

Categories
#Talk#Telisik
Caesar Damara

yuk check janisproject.com :D

RELATED BY